Seminar Internasional Pelalawan 2018 Resmi di Buka Sekjend Menperin Haris Munandar

Hadir dalam kesempatan tersebut Dirjen Kelembagaan IPTEK DIKTI,Deputi Kepala Badan Pengkajian dan PenerapanTeknologi ( BPPT RI) Bidang Pengkajian Kebijakan Dr.Ir.Gatot Dwiyanto,M.Eng, Bupati Pelalawan H.M.Harris selakutuan rumah, Forkompinda Propinsi dan Kabupaten, Pejabat Pemerintah Propinsi dan Kabupaten se Propinsi Riau,Direktur utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Dono Boestami,National Project Director Sustainable Palm Oil Initiative (SPOI) UNDP Indonesia Ir Dedi Junaedi,M.Sc, Direktur PPKS Medan, Delegasi HakteknasPemerintah Propinsi / Kabupaten dan Kota Se Indonesia, Sahat Sinaga Wakil Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia,Dr.Darmono Taniwiryono Ketua Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia ( MAKSI ), Asosiasi Industri Hilir dan Hulu
Kelapa Sawit, Pimpinan Perusahaan, Toshihide Nakajima Direktur E-Bio Advanced Technology Jepang, YamamotoTaizo ( Representative Director Eco Support Co Ltd Jepang ) dan Prof.Dr.Ing Eko Supriyanto Guru Besar Universitas Teknologi Malaysia, Para Rektor Perguruan Tinggi Swasta,Negeri,Akademisi, Para Peneliti dan Pekekayasa Dalam danLuar Negeri, Tokoh Masyarakat dan Organisasi serta Masyarakat Persawitan.

Harris Munandar yang mewakili Menteri Perindustrian Air Langga, menyampaikan beberapa pesan terkiat perindustriankelapa sawit di Indonesia. Termasuk perkembangan teknologi dalam industri hulu maupun hilir sawit yang akandikembangkan di ST2P. "Perkembangan teknologi harus selaras dengan dunia industri kelapa sawit," kata Harris Munandar.

Sekjen Harris Munandar menyatakan, saat ini banyak kampanye hitam terhadap dunia industri kelapa sawit diIndonesia. Kampanye negatif ini menjadi pengekangan dan ancaman tersendiri di Indonesia yang hembuskan olehdunia Eropa.Isu yang dihembuskan yakni kelapa sawit Indonesia tidak ramah terhadp lingkungan, merusak alam, hingga kebun sawityang dibangun dalam kawasan hutan.

"Ini harus dilawan dengan menunjukan kualitas sawit Indonesia yang berdaya saing tinggi dan ramahlingkungan," tandasnya.Penelitian terhadap turunan kelapa sawit yang dijadikan menjadi komoditi tersendiri menjaid tugas bersama. Agarmampun menyaingin isu negatif atas dunia kelapa sawit Indonesia.Sementara itu Bupati Harris mengatakan seminar internasional dalam peringatan Harteknas menjadi kesinambungan program di Kawasan Teknopolitan.

Bukan perkara mudah mewujudkan Kawasan Tekno Park dan prosespembangunannya. Komitmen yang kuat untuk menjalankan dan mewujudkan secara penuh."Kami sangat butuh dukungan pemerintah pusat dalam mewujudkan Kawasan Teknopolitan ini. Sebagai pusatpendidikan dan inovasi teknologi di bidang industri kepala sawit," tukasnya.Dijelaskan, seminar ini diharapkan bisa menunjang 7 Program Strategis Pemerintah Daerah, yakni Pelalawan Inovatif.Menurutnya, sekitar 75 persen masyarakat Pelalawan menggantungkan hidup melalui perkebunan sawit.

"Melaluiseminar ini, petani kebun kita tidak hanya diharapkan menjadi pemilik dan pekerja kebun saja, tetapi bisa mandiri yangbukan hanya pemilik, namun bisa mengolah sendiri dan memasarkannya langsung," ujarnya.Mantan Ketua DPRD Pelalawan itu optimis, pelaksanaan seminar internasional akan membuat bangsa Indonesia majudan bahkan bisa sejajar dengan negara lain, terutama dalam penerapan inovasi dan teknologi. (rls/ryan )

SHARE :
LINK TERKAIT